hoax seputar vaksin

Plossa Program vaksinasi nasional telah dilaksanakan di berbagai daerah di Indonesia sebagai upaya pencegahan terhadap penyebaran virus Covid-19. Vaksin akan memberikan proteksi melalui pembentukan antibodi. Selanjutnya, antibodi tersebut akan memberikan kekebalan pada tubuh. Sayangnya, banyak sekali berita hoax seputar vaksin di sosial media yang menyesatkan masyarakat.

Vaksin Covid-19 memang sudah menimbulkan banyak pro dan kontra sejak awal kehadirannya. Terutama untuk vaksin Sinovac yang berasal dari Tiongkok.

Kampanye pemerintah pun semakin digalakkan untuk mengajak masyarakat agar tidak takut divaksin. Sebagai masyarakat yang cerdas, jangan sampai Anda termakan berita hoax yang berkeliaran. Lalu, apa saja berita hoax seputar vaksin yang tidak boleh dipercaya?

Inilah 5 Berita Hoax Seputar Vaksin yang Menyesatkan Masyarakat

  1. Vaksin Covid-19 bisa bermutasi menjadi virus baru

Beberapa waktu lalu, beredar pesan berantai di sosial media terkait pernyataan peneliti asal Universitas Brawijaya bernama Prof. Sutiman. Dalam pesan berantai tersebut, Prof Sutiman menyatakan bahwa vaksin Covid-19 dapat bermutasi menjadi virus Covid-19 jenis baru.

Bahkan, disebutkan pula bahwa vaksin Covid-19 sama sekali tidak berguna. Faktanya, Prof. Sutiman hanya menyebutkan bahwa virus Covid-19 sudah bermutasi menjadi virus lokal yang menyebabkan sulitnya penemuan vaksin secara global. Sampai di sini, maka sudah jelas bahwa berita tersebut adalah palsu dan menyesatkan masyarakat.

  1. Vaksin Sinovac adalah senjata biologis

Sosial media juga dihebohkan dengan berita yang menyatakan bahwa vaksin Sinovac adalah senjata biologis Tiongkok yang diujicobakan bagi masyarakat muslim di Indonesia. Berita tersebut menyatakan bahwa masyarakat Indonesia adalah kelinci percobaan.

Tentu saja, berita tersebut adalah hoax. Pasalnya, bukan hanya Indonesia saja yang menjadi negara satu-satunya pengguna Vaksin Sinovac tersebut. Selain Indonesia, ada beberapa negara lainnya yang menggunakan vaksin tersebut. Bahkan, Tiongkok sendiri juga telah menyuntikkan vaksin tersebut kepada warganya.

  1. Vaksin mengandung jaringan kera hijau Afrika

Hoax yang tidak kalah mencengangkan adalah terkait vaksin Sinovac yang disebut mengandung sel vero yang merupakan jaringan kera hijau asal Afrika. Berita tersebut juga menyebutkan bahwa vaksin mengandung virus hidup yang dilemahkan serta bahan berbahaya seperti formalin, merkuri, aluminium, dan boraks.

Bambang Herianto, juru bicara vaksin Covid-19 PT. Bio Farma dengan tegas membantah informasi hoax tersebut. Beliau menegaskan bahwa vaksin yang disuntikkan kepada masyarakat tidak mengandung sel vero atau jaringan kera hijau. Informasi yang beredar adalah hoax dan sebaiknya jangan dipercaya dan jangan disebarluaskan lagi.

  1. Vaksin bisa menyebabkan kanker

Mitos selanjutnya yang banyak dipercaya oleh masyarakat terkait vaksin Covid-19 adalah bisa menyebabkan kanker. Berita palsu yang tidak bisa dipertanggungjawabkan ini ternyata masih banyak yang mempercayai. Padahal, berita bahwa vaksin menyebabkan kanker adalah tidak benar.

Faktanya, ada vaksin yang justru bisa melindungi manusia dari kanker. Mulai dari vaksin hepatitis yang terbukti bisa melindungi tubuh dari kanker hati hingga vaksin HPV yang dapat mencegah kanker serviks atau kanker leher rahim.

  1. Vaksin menyebabkan otak menjadi lamban berpikir

Beberapa waktu yang lalu, beredar pula informasi yang menyatakan bahwa vaksin menyebabkan otak jadi lelet atau lamban berpikir. Tentunya, informasi ini adalah hoax. Vaksin Covid-19 tidak menyebabkan efek samping berupa gangguan otak seperti lamban berpikir atau sulit menghafal. Sehingga, tidak benar bahwa vaksin menyebabkan gangguan pada otak manusia.

Begitu banyak berita hoax seputar vaksin yang beredar di dunia maya. Hal ini menuntut semua masyarakat untuk lebih cerdas dalam memilih informasi yang disebarkan di sosial media. Sebaiknya, jangan langsung percaya begitu saja dengan informasi tersebut. Teliti dahulu bagaimana kebenarannya sebelum mempercayai apalagi menyebarkan berita tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *